Home > olahraga > Iwan Karo-karo, Sang Legenda Bola Sumut

Iwan Karo-karo, Sang Legenda Bola Sumut

Iwan Karo-karo (anakjalanpelajar.blogspot.com)

Nama Iwan Karo-karo pernah begitu populer tak hanya di Sumatra Utara tapi juga seantero tanah air. Namanya dielu-elukan bak seorang pahlawan di dalam stadion yang dijejali puluhan ribu penonton.

Di era 1980-an Iwan memang menjadi salah satu idola pencinta bola tanah air. Namanya turut melambung bersama kesuksesan tim yang dibelanya di kompetisi Perserikatan yakni PSMS Medan.

Bagi yang berusia di atas 40 tahun mungkin masih teringat jelas bagaimana dahsyatnya final Perserikatan pada 1984. Di final, PSMS yang diperkuat Iwan bertemu Persib Bandung, tim terkokoh di Jawa Barat. Pertarungan berlangsung di Stadion Stadion Utama Senayan (Gelora Bung Karno) . Laga menyedot ribuan pendukung kedua tim.

Ditaksir, final disaksikan lebih kurang 120 ribu penonton dan masuk Museum Rekor Indonesia (MuRI) sebagai pertandingan yang menyedot penonton terbanyak sepanjang sejarah sepak bola dalam negeri. Laga yang berlangsung ketat, yang juga menguras tenaga, dimenangkan PSMS. Medan bepesta, Sumatera Utara bergelora.

Setahun kemudian, PSMS dengan musuh yang sama di partai puncak, juga tampil sebagai yang terbaik. Persib saat itu diperkuat sederet pemain top yang kemudian menjadi legenda tanah Pasundan, di antaranya Ajad Sudrajat, Robby Darwis, Kosasih, Sukowiyono, dan Iwan Sunarya.

Iwan Karo-karo memang layak disebut sebagai legenda pesepak bola Sumatera Utara.  Keberhasilannya mempersembahkan medali emas PON 1989 membuat lagu Kacang Koro membahana di hadapan 100.000 penonton Stadion Senayan.

Seiring dengan perubahan format kompetisi dengan penggabungan Galatama dan Perserikatan ke dalam format Liga Indonesia, prestasi PSMS juga Iwan mulai menurun. Iwan tercatat masih aktif membela PSMS hingga selama dua musim kompetisi Ligina. Ia tetap menjadi pemain kunci bersama sejumlah pemain lain seperti Abdul Rahman, Witya Fusen, dan Irfansyah.

Pada musim pertama Liga Indonesia yang saat itu terbagi atas 2 wilayah, di mana PSMS berada Wilayah Barat. Iwan hanya mampu membawa PSMS di papan tengah klasemen. Iwan dkk pada saat itu dijuluki jago kandang karena sulit dikalahkan bila bermain di Medan.

Pada musim kedua Liga Indonesia, PSMS kembali bergabung di Wilayah Barat, dan PSMS kembali hanya berada di papan tengah klasemen. Pemain kunci saat itu adalah Ronaldo dan Alessando dari Brasil, serta Iwan Karo-Karo.

Musim kompetisi selanjutnya nama Iwan perlahan mulai redup dan praktis tak pernah lagi terdengar setelah itu. Barulah sekitar 2010, namanya terdengar kembali. Kali ini tak lagi sebagai pemain, melainkan pelatih.

PSMS, tim yang membesarkan namanya dahulu memberikan kepercayaan kepadanya untuk menukangi PSMS Junior. Prestasi Iwan bersama PSMS Junior juga tidak terlalu mengecewakan. Berkat sentuhan tangan dinginnya, PSMS Junior berubah menjadi sebuah kekuatan di Piala Suratin yang cukup disegani lawan.

Categories: olahraga
  1. elang
    03/04/2013 at 12:01 am

    iwan karo-karo, si tukang jagal alias algojo senayan. Namanya meroket saat mengantarkan sumut juara PON 1989

    Like

  1. No trackbacks yet.

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

%d bloggers like this: