Home > Infrastruktur > Jalur Alternatif Medan-Berastagi Masih Angan-angan

Jalur Alternatif Medan-Berastagi Masih Angan-angan

Lintas Medan-Berastagi (swatt-online.com)

Pengembangan jalur alternatif baru menuju Medan-Berastagi tampaknya masih angan-angan.

“Sejauh ini, secara resmi belum ada pembahasan mengenai rencana membangun jalur alternatif baru dari Medan-Berastagi itu,” kata Kepala Satauan Kerja Metropolitan, Balai Jalan dan Jembatan, Kementerian PU Wilayah Sumut, Mulatua Sinaga, Senin (21/5).

Dia bahkan mengatakan kajian jalan itu pun belum ada. Karenanya, perencanaan juga belum bisa dilakukan. “Kalau melihat perlu dan mendesaknya, memang jalur alternatif baru ke kawasan itu sudah dibutuhkan,” ujarnya.

Menurut Mulatua, pihaknya memang mendapat informasi adanya rencana membuka akses jalur alternatif baru dari Medan menuju Berastagi. Rencana itu muncul dengan beberapa pilihan yang jalur yang sudah ada ataupun pembukaan jalur baru.

Salah satunya, melalui Tuntungan, yang dapat tembus sampai Sibolangit dekat Berastagi, Dolok Seribu, Lubuk Pakam. Juga ada beberapa jalur lain yang sudah ada, tinggal dikembangkan dan ditingkatkan statusnya.

“Yang lebih efisien itu memang jalur yang sudah ada dikembangkan lagi. Seperti beberapa jalur dari informasi yang saya terima. Itu bisa dimanfaatkan, serta ditingkatkan statusnya dari jalan kecil menjadi jalan besar yang diperlebar. Walau harus melakukan pembebasan tanah warga, tapi itu lebih efisien daripada harus membuka jalur jalan baru,” ujarnya.

Dia menilai jika membuka jalan baru ke Berastagi, membutuhkan anggaran lebih besar daripada pengembangan jalur yang sudah ada. Selain itu, pembukaan jalur baru akan terkendala pada beberapa hal seperti kawasan hutan lindung yang mengelilingi kawasan Pancur Baru, Sibolangit, Berastagi dan Tanah Karo.

“Kendalanya, pasti melalui hutan lindung. Kita harus minta izin lagi, untuk membuka jalan dari hutan lindung. Sangat repot. Karena izinnya, langsung ke Menteri Kehutanan. Ini sulit,” ungkapnya.

Mulatua juga menjelaskan, longsor yang terjadi di kawasan Pancur Baru dan Sibolangit baru-baru ini disebabkan guncangan gempa. Gempa yang terjadi di NAD, beberapa waktu lalu membuat dataran tinggi di kawasan Pancur Batu, Sibolangit dan Berastagi tekturnya menjadi longgar.

“Pada kasus longsor pertama di KM 54, tiga pekan lalu itu, dari pengamatan visual kita dan informasi warga. Longsor terjadi akibat tanah dan pohon yang berada diatas lokasi longsor itu sudah retak dan longgar tidak padat lagi. Itu akibat gempa kuat terjadi di Aceh beberapa waktu lalu dan getarannya sampai ke sini. Tekstur tanah tidak padat lagi, ditambah hujan deras maka membuat tanah jadi turun dan longsor dan menutup jalan. Itu hasil analisis kita pada kasus longsor pertama,” jelasnya.

Untuk longsor kedua, lanjutnya, yang terjadi di Sibolangit pada, Rabu malam (16/5), itu masih dalam pengamatan dan analisis tim dari Balai Jalan dan Jembatan Kementerian PU. Analisis dan pengamatan hingga saat ini masih dikumpulkan di lapangan, termasuk apakah lokasi tergolong dalam kawasan longsor.

“Untuk kasus kedua, kita sedang amati, nanti jika sudah ada hasilnya akan kita sampaikan,” ujarnya. Pada kasus pertama longsor di KM 54 itu, memang masuk kawasan rawan longsor. ”Untuk itu kita akan melakukan pembetonan guna memperkuat dinding dan mengurangi resiko longsor. Sedangkan kasus longsor kedua, masih diamati oleh tim di lapangan. Kita kita lakukan pembetonan jika sudah mengetahui titik mana saja yang rawan longsor. Tidak mungkin semua dinding, kita beton, anggaran sangat terbatas,” tegasnya.

Sebelumnya, pengusaha angkutan umum mulai mendesak Pemerintah Propinsi Sumut (Pempropsu) dan pemerintah pusat agar segera membangun jalur alternatif baru Medan-Berastagi. Desakan itu muncul, menyusul kedua kalinya dalam rentan waktu yang tidak lama longsor kembali terjadi di jalur Medan-Berastagi selama ini yakni via Medan-Pancur Batu-Sibolangit.

Ketua Organisasi Angkutan Darat (Organda) Sumut Haposan Sillagan, Minggu (20/5) lalu mengatakan gangguan transportasi di jalur Medan-Berastagi adalah tanah longsor.

Sementara Kabid Perhubungan Darat Dinas Perhubungan (Dishub) Sumut, Darwin Purba mengatakan, pihaknya telah memikirkan jalur alternatif tersebut. Namun untuk memulainya, membutuhkan bantuan dari Pemerintah Pusat, sebab jalur itu merupakan jalur jalan nasional.

Namun, saat ini, untuk sementara, di tahun anggaran 2012. Pihaknya akan mulai memasang sejumlah rambu peringatan, berupa rambu bergambar dan rambu tulisan digital running teks.

Running teks ini nantinya akan ditempatkan di titik vital untuk memberikan informasi mengenai kondisi yang terjadi di jalur Medan-Berastagi. “Rencananya, tahun ini akan kita laksanakan dari anggaran APBD Pempropsu. Tahun ini akan ditenderkan,” tegasnya. (Medan Bisnis)

Categories: Infrastruktur
  1. 15/06/2012 at 7:05 am

    Semoga suatu saat nanti menjadi kenyataan, soalnya Brastagi adalah lokasi wisata yang menarik bagi para wisatawan.

    http://hypnosis-sehat.info

    Like

  1. No trackbacks yet.

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

%d bloggers like this: