Home > hukum > Retribusi Pasar Kaget Berastagi Langgar Aturan

Retribusi Pasar Kaget Berastagi Langgar Aturan

Kota Berastagi (dok)

Pengutipan retribusi parkir dilakukan Dinas Perhubungan (Dishub) Karo terhadap pedagang pasar kaget yang menggunakan gerobak dorong di Pasar Kaget Berastagi menyalahi ketentuan yang ada.

“Itu bukan kategori parkir. Jika Dishub Karo tetap melakukan pengutipan sebaiknya Polres menertibkannya karena pengutipan itu tanpa dasar hukum yang jelas,” kata Anggota DPRD Karo Sentosa Sinulingga, SH kepada wartawan di Kabanjahe, Kamis (24/5) .

Menurutnya selain tidak menggunakan mesin, sejumlah gerobak dan steling, juga ditempatkan di atas trotoar jalan. Apalagi para pedagang menggunakan gerobak dorong yang tidak pakai mesin.

Dikatakannya, kutipan retribusi parkir yang dikenakan terhadap seluruh pedagang yang berjualan di atas trotoar jelas-jelas merupakan kebijakan keliru. Perda No.5/2012 acuan yang harus dipatuhi semua pihak termasuk Dinas Perhubungan.

“Sudah cukup masyarakat diberatkan kenaikan pajak dan retribusi, jangan lagi ditambah dengan penyalahgunaan Peraturan Daerah itu sendiri. Jika benar Dishub melakukan pengutipan objek parkir terhadap para pedagang yang menjajakan dagangannya di atas trotoar, itu sudah pungli. Polres Karo diminta bertindak tegas, agar ke depan ada efek jera bagi oknum-oknum yang menyalahgunakan ketentuan yang sudah disepakati bersama,” kata legislator Partai Gerindra itu.

Berdasarkan Perda No 5 tahun 2012 tentang Retribusi Jasa-ssaha, pasal 42 ayat (1) A. Objek retribusi tempat khusus parkir adalah pelayanan tempat khusus parkir yang disediakan, dimiliki dan/atau dikelola Pemda di lokasi objek wisata, Gundaling, Sipiso-piso Tongging, Perkemahan Danau Lau Kawar, Taman Mejuah-juah, dan Lau Debuk-debuk.

Di lokasi tempat pelelangan sesuai pasal 42 ayat (1) bagian B dituliskan, Gang Merek Berastagi, Dolat Rakyat, Pajak Singa Kabanjahe, Tiga Panah, Tiga Binanga, Mardinding, Lau Baleng, Tiganderket, Merek, Suka dan Suka Rame.

Terpaksa

Menurut sejumlah pedagang, mereka terpaksa membayar retribusi parkir karena khawatir terjadi keributan di sekitar lokasi berjualan. Pihak pedagang enggan menolak bayaran Rp 1000, karena khawatir tamu yang sedang bersantap makan malam terganggu atas tindakan oknum petugas Dishub Karo itu. Selain itu, mereka juga mengaku, dikenakan biaya retribusi tempat dan kebersihan. Dalam pelaksanaan kutipan, oknum yang menggunakan seragam Dishub, selain terkesan arogan kepada pedagang juga memaksa.

“Kami tidak memakai beram jalan. Gerobak/steling dorong nyata ditempatkan di atas trotoar. Bagaimana ada parkir di atas trotoar. Selain itu, petugas yang menggunakan seragam Dishub juga meminta retribusi dengan cara memaksa, tidak ada etika. Ala premanisme,”ujar Asmiati salah seorang pedagang.

Kadis Perhubungan Drs Jamin Ginting, ketika dihubungi melalui telepon selularnya membenarkan pengutipan itu, sesuai retribusi pada Perda No 5 tahun 2012 di sejumlah objek wisata, tempat pelelangan, dan di tempat lokasi khusus. Retribusi dikutip petugas resmi yang mengenakan seragam lengkap.

Namun ketika disinggung Pasar Kaget yang diketahui selama ini sebagai lokasi jajanan dan makan malam merupakan lokasi pelelangan. Kadis belum berkomentar lebih jauh. “Memang ada retribusi di sejumlah tempat pelelangan. Nanti, saya lihat dulu di kantor rinciannya lebih lanjut,”ujar Jamin Ginting. (Analisa)

Categories: hukum
  1. No comments yet.
  1. No trackbacks yet.

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

%d bloggers like this: