Home > Infrastruktur > Sebutan “Kera Jambi” Dituding Menghina Bupati

Sebutan “Kera Jambi” Dituding Menghina Bupati

Para pendemo memakai topeng monyet

Aksi teaterikal massa bertopeng monyet dan mengenakan atribut LSM Lumbung Informasi Rakyat (LIRA) Kabupaten Karo mengaku ‘Kera dari Jambi’ di sejumlah titik di kota Kabanjahe, Rabu siang (30/5) terkesan menyudutkan Bupati Karo. Bupati Karo yang dikenal dengan julukan ‘Karo Jambi’ seolah dipelesetkan dengan memakai topeng monyet dengan sebutan Kera dari Jambi.

Aksi yang dianggap langka itu mendapat tanggapan keras dari anggota DPRD Karo Eka Jaya Sitepu SE. Saat dimintai tanggapannya Eka Jaya mengaku geram dan menuding aksi itu, menunjukkan sebuah penghinaan terhadap orang nomor satu di Tanah Karo.

“Saya minta Kapolres mengusut aksi yang dilakukan LIRA. Itu sudah penghinaan.  Saya sebagai wakil rakyat merasa keberatan atas aksi tersebut,” kecam Eka Jaya.

Dalam orasi dan selebarannya, mereka mengkritisi janji-janji kampanye Bupati Karo, DR (HC) Kena Ukur Karo Jambi Surbakti yang hingga hari ini setahun lebih, semua bohong. Dulu Bupati Karo mengaku hanya membutuhkan ‘Jengkol Bupati’ dan mengabdikan masa tuanya untuk kesejahteraan rakyat, adalah bohong besar.

“Di saat ekonomi masyarakat Karo semakin lemah, kenapa justru dibebani dengan urusan birokrasi yang semakin ruwet serta menambah beban masyarakat dalam kenaikan retribusi sangat tinggi,”ujar Aditya Sebayang SE, yang menjadi jubir massa yang juga sebagai Bupati LSM LIRA Kabupaten Karo.

Berbagai bentuk pungutan dibebankan kepada rakyat semakin menambah daftar panjang kesengsaraan rakyat. Di antaranya, mulai dari zaman Belanda menjajah Indonesia, pedagang ayam di Kabupaten Karo tidak pernah dikutip seperser pun untuk setiap satu ekor ayam yang dijual. Tapi, di zaman Bupati Karo Jambi, setiap pedagang ayam harus membayar Rp 500 per ekor yang dijual per hari. “Mberat tuhu nake,” seru Sebayang.

Seterusnya, sambung Aditya lagi, sebelum Bupati Karo, DR (HC) Kena Ukur Karo Jambi, setiap truk dolomite hanya dikenakan retribusi sebesar Rp 10.000 per hari. Ntah dari mana rumus dan peraturannya, sekarang setiap truk dolomite dipungut Rp 80.000 per hari. “Kuja kin kerina sen e, nina anak kuta. (kemana semua uang itu kata warga desa), “ujarnya.

Mengakhiri orasi, mereka melempar sebuah pertanyaan, “Masih layakkah bapak Kena Ukur Karo Jambi Surbakti menjadi Bupati Karo,”? (Harian Andalas)

Advertisements
Categories: Infrastruktur
  1. jhony
    08/06/2012 at 8:05 am

    D tambah lagi retribusi untuk masuk ke pemandian air panas raja berneh, untuk apa d kutip retribusi tersebut? ada yang bilang kalau retribusitersebut untuk masuk ke pemandian air panas sidebuk-debuk, tapi sepertinya sekarang tidak ada lagi orang yang berwisata ke lau si dwbuk-debuk terswbut yang ada wisatawan datang ke air panas yang ada di desa raja berneh, kalau d naikkan lagi tarif retribusi masuknya bisa-bisa wisatawan malas datang ke air panas yang justru akan mengurangi pendapatan warga sekitar, bahkan juga pendapatan pemda tanah karo juga. boleh saja retribusi di kutip tapi tolong lah infrastruktur jalan masuk itu di benahi, jangan hanya mau mendapatkan uang masuk yang tidak jelas saja lah, lo pagi babam kerina sen e mate, la pagi tertanggungmu dosam e,.

    Like

  1. No trackbacks yet.

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

%d bloggers like this: