Home > Pertanian > Jeruk Karo di Titik Nadir

Jeruk Karo di Titik Nadir

Lalat buah (dok)

Hama lalat buah menyerang tanaman jeruk di Tanah Karo atau yang lebih populer dengan sebutan jeruk berastagi dan jeruk medan sudah berlangsung sejak lima tahun terakhir. Namun serangan yang paling menggila dirasakan sejak tahun terakhir ini.

Tak sedikit petani Karo yang kemudian menyerah dan akhirnya menelantarkan tanaman jeruknya. Mereka sudah kehabisan formula untuk membasmi hama yang mereka namakan citcit tersebut.

Berbagai upaya telah dilakukan mulai dari meningkatkan kualitas dan kuantitas penyemprotan pestisida maupun formula alternatif yakni memasang jaring di sekeliling kebun untuk mencegah masuknya citcit. Khusus pemasangan jaring ini, biayanya sangat tinggi. Estimasinya untuk satu hektar kebun jeruk dibutuhkan biaya sekitar Rp20-40 juta yang antara lain dialokasikan untuk biaya jaring, bambu, maupun pekerja lepas.

Dinas Pertanian Karo juga sudah menyosialisasikan gerakan massal penggunaan perekat (lem). Saking putus asanya, tak sedikit petani yang menyemprot jeruk dengan cairan kapur barus atau kamfer, minyak angin, maupun Baygon. Tak satupun upaya tersebut efektif membasmi citcit.

Serangan hama ini justru semakin mengganas. Citcit tetap menyerang buah yang sudah matang. Serangga betina memasukkan telur ke dalam buah dan beberapa hari kemudian buah mulai berguguran. Sementara dari dalam buah yang jatuh akan muncul puluhan lalat baru.

Serangan lalat buah ini rata-rata menjatuhkan 50-70% buah yang sudah matang di pohon. Tak jarang petani gagal panen sama sekali. Sedihnya lagi, sisa jeruk yang selamat dari serangan hama, harganya jatuh.

Buah berukuran sedang saat ini hanya dihargai Rp4.500, padahal semasa jayanya jeruk karo bisa menyentuh harga Rp10.000. Meski sudah disortir secara teliti sebelum dimasukkan ke dalam keranjang, ternyata banyak buah yang tetap busuk ketika sampai di Jakarta.

Serangan hama tersebut benar-benar mematikan ekonomi warga setempat. Selain banyak petani mulai menelantarkan tanaman jeruknya, serapan tenaga kerja yang dulunya sangat tinggi untuk perawatan, panen, hingga pengepakan kini sudah jauh berkurang. Tak sedikit pengusaha yang dulunya membeli jeruk langsung dari petani gulung tikar.

Dampak paling signifikan adalah mulai menurunnya daya beli masyarakat. Ini diakibatkan tingginya biaya produksi dan tuntutan biaya pendidikan anak-anak petani. Perlu diingat, jeruk yang mulai dikembangkan di era 90-an di Tanah Karo, telah mengantarkan ribuan anak-anak muda Karo mengenyam pendidikan S1 maupun S2 hingga ke Pulau Jawa.

Pertanyaan yang muncul adalah bisakah jeruk karo bangkit kembali? Tanpa campur tangan pemerintah maupun akademisi, hal itu mustahil dicapai. Pemerintah sangat berperan dalam membuat regulasi misalnya saja pemberantasan secara massal.

Para petani mengeluhkan, hingga saat ini tak ada peran siginfikan yang dilakukan pemkab setempat. Kelompok tani memang sering didatangi oleh penyuluh, tapi nyaris tak ada solusi yang berarti yang mereka berikan.

Adapun akademisi sangat diharapkan menemukan formulasi yang tepat untuk mengatasi serangan hama itu. Dulu memang petani Karo paling sulit diajari karena merasa pengalaman mereka lebih berharaga. Namun belakangan ini hal itu sudah mulai berubah, mereka sangat berharap ada pihak yang bisa memberi solusi di tengah keputusasaan mereka.

Advertisements
Categories: Pertanian
  1. No comments yet.
  1. No trackbacks yet.

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

%d bloggers like this: