Home > Pertanian > Kondisi Petani Jeruk Karo Kian Memprihatinkan

Kondisi Petani Jeruk Karo Kian Memprihatinkan

Lalat buah yang menyerang jeruk (dok)

Kondisi petani jeruk Sumatera Utara (Sumut) semakin terpuruk saja. Betapa tidak, serangan hama lalat buah hingga kini belum bisa dikendalikan meskipun banyak upaya yang telah dilakukan petani. Lalat buah menjadi salah satu penyebab berkurangnya produksi buah jeruk selain faktor alam.

B Surbakti, salah seorang petani jeruk di Desa Nangbelawan, Kecamatan Simpang Empat Kabupaten Karo Selasa (5/6) di Medan mengatakan, jika dihitung dari produksi, hampir sebagian besar petani jeruk di Kabupaten Karo mengalami penurunan. Penyebab utamanya adalah serangan lalat buah.

Dikatakannya, dari satu hektare tanaman jeruknya, saat ini tinggal 200-300 pohon yang masih berdiri dari sebelumnya sekitar 500. “Yang lainnya sudah mati dan dibiarkan mati karena buahnya rusak,” katanya.

Dikatakan Surbakti, semestinya dari tiap pohon jeruk buah yang bisa dipetik sebanyak 80 -100 kg, namun setelah serangan lalat buah, tak sampai separuhnya yang bisa dipetik. “Akibat yang pasti pendapatan petani jeruk semakin menurun,” katanya.

Dikatakannya, lalat buah menjadikan kulit buah sebagai tempat bertelurnya. Dan, buah yang sudah diserang lalat buah akan terdapat bintik berwarna putih dan jika dibuka di dalamnya terdapat semacam belatung halus yang memakan daging buah kemudian meninggalkan bekas luka. Lama kelamaan akan membusuk, tak bisa dijual lagi.

Banyak upaya yang sudah dilakukan petani untuk mencegah serangan lalat buah. Di antaranya dengan tidak membiarkan buah yang membusuk tersebut berada di bawah pohon. Buah yang membusuk tersebut harus disingkirkan agar tidak menjadi tempat berkembangbiaknya lalat buah secara lebih masif.

“Dulu kami pikir, bisa sebagai pupuk, tapi ternyata di situ pula banyak lalat berkembang biak. Tidak hanya iklim yang sulit dikendalikan, lalat buah ini bikin pusing petani,” katanya.

Selain itu, ada juga beberapa petani lain yang berinisiatif untuk membuat jaring di sekeliling kebun untuk mencegah lalat masuk. Jaring dalam ukuran besar tersebut bisa mencapai tinggi 5 – 10 meter dengan asumsi lalat tidak bisa terbang lebih tinggi dari jaring tersebut. Tak ayal, untuk mengadakan jaring tersebut, jutaan rupiah harus dikeluarkan petani padahal belum tentu efektif.

“Berdoa saja, daripada tidak berusaha, kita tidak mau jeruk kita menurun terus produksinya,” ujarnya sambil menerangkan bahwa sebenarnya ada teknik sederhana yang bisa dilakukan petani yakni dengan membuat jebakan berupa lem yang diberi warna mencolok dan aroma tertentu untuk menarik perhatian lalat buah. Jebakan tersebut dipasang di sekitar pohon.(Medan Bisnis)

Categories: Pertanian
  1. No comments yet.
  1. No trackbacks yet.

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

%d bloggers like this: