Home > Pertanian > Rumah Kompos Berbiaya Rp200 Juta di Mardingding Terlantar

Rumah Kompos Berbiaya Rp200 Juta di Mardingding Terlantar

Rumah kompos di Mardingding (Andalas)

Keberadaan rumah kompos berbiaya Rp200 juta bersumber dana dari APBN melalui Bantuan Sosial (Bansos) TA 2010 dan sebagian dana swadaya masyarakat di Desa Mardingding, Kecamatan Mardingding menjadi bahan pertanyaan warga sekitar.

“Pasalnya, rumah kompos yang sesungguhnya lokasi untuk mengelola pupuk organik itu dijadikan menjadi gudang pribadi dan tempat tinggal karyawan pabrik jagung,” ungkap beberapa warga desa tersebut, salah satunya bermarga Ginting, kemarin.

Dikatakan Ginting, sudah hampir dua tahun rumah berukuran 8 x 11 M tersebut selesai dibangun. Namun, hingga saat ini belum pernah difungsikan alias dibiarkan telantar. “Kami juga heran, saat membuat bangunan tersebut sebagian dana dikutip dari warga yang katanya untuk menambahi dana bantuan dari pusat (Bansos APBN),”bebernya.

Celakanya, sampai sekarang tidak ada manfaatnya bagi warga.”Malah bangunan tersebut dijadikan ketua penyelenggara anggaran menjadi gudang alat-alat pertanian dan karyawan pabrik jagung milik ketua tersebut,“ sebut Ginting.

Lebih jauh dikatakannya, bangunan itu terkesan hanya modus ketua penyelenggara berkolaborasi dengan Dinas Pertanian Karo untuk menyedot dana Bansos dan uang rakyat. “Program ini terkesan menipu negara dan memeras uang rakyat. Hal ini sudah jelas menjadi asumsi kami, karena tidak bermanfaat bagi kami,” ketusnya.

Kepala Dinas Pertanian Karo Agustoni Tarigan ketika dikonfirmasi justru mengarahkan kepada Kepala Bidang yang memahaminya. Sementara Kepala Bidang Sarana dan Prasarana Ir Sri Idah Br Bangun mengatakan, pihaknya sudah pernah menegur oknum yang diduga mengalihfungsikan rumah kompos tersebut.

Saat disinggung fungsi rumah kompos, Sri Idah menyebutkan, manfaat rumah kompos dan alat pengelola yang ada di dalamnya untuk membuat pupuk organik, yang akan digunakan kelompok tani di desa tersebut.

Ditanya, bagaimana sistem penggunaan dan pengelolaan dana yang besumber dari pusat saat pembangunan fisik rumah tahun 2010 lalu, Sri Idah memberi jawaban berbelit-belit.

“Kalau masalah pengawasan, kami sudah memberikan arahan positif bagi pengguna dana. Namun, kalau ditanya sistem pengolahan dana, itu kan urusan saya sama para penyelenggara.Lagi pula untuk apa kalian soroti dana Bansos itu. Itu kan dana pusat, terlebih yang melobi ke atas kan kami juga,” kata Sri.(Andalas)

Categories: Pertanian
  1. No comments yet.
  1. No trackbacks yet.

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

%d bloggers like this: