Home > Pertanian > Tiga Tahun Terpuruk, Jeruk Karo Kini Mencoba Bangkit

Tiga Tahun Terpuruk, Jeruk Karo Kini Mencoba Bangkit

Panen jeruk di Paribun, Panribuan, Kecamatan Dolok Silau, Kabupaten Simalungun (Medan Bisnis)

Panen jeruk di Paribun, Kecamatan Dolok Silau, Kabupaten Simalungun (Medan Bisnis)

Dalam waktu sekejap ember-ember itu terisi penuh dengan buah jeruk yang telah disortir. Ada yang berukuran kecil, sedang hingga berukuran besar. Masing-masing ukuran ditempatkan ke dalam keranjang berukuran sekitar 70 kg. Untuk selanjutnya, keranjang yang sudah penuh ditutup dan diikat dengan tali agar tidak terbuka. jeruk itu nantinya dikirim ke Pasar Induk Jakarta.

Itulah pemandangan yang terlihat dari pekerja-pekerja panen di lokasi perkebunan jeruk di Desa Paribun, Kecamatan Dolok Silau, Kabupaten Simalungun belum lama ini. Para pekerja itu memang sudah terlatih dalam memilih jeruk yang bagus dengan yang kurang bagus, serta ukuran sesuai yang dikendaki sang “majikan”.

“Kalau untuk ukuran kecil kita tolak ke pasar lokal saja. Tetapi untuk grade A dan B atau ukuran 8 – 12 buah per kilogram (kg) itu yang kita pasarkan ke Pasar Induk Jakarta,” aku Zein Sembiring, suplier jeruk manis di Kecamatan Dolok Silau memulai perbincangannya kepada MedanBisnis.

Sembiring mengaku permintaan jeruk medan (orang Jakarta sebut, jeruk Karo atau jeruk asal Sumatera Utara adalah jeruk Medan), sangat tinggi. Berkisar 8 ton per hari. Namun, permintaan itu belum terpenuhi karena kondisi jeruk di sentra-sentra jeruk saat ini bermasalah dengan serangan lalat buah dan hama penyakit yang banyak menyerang pertanaman jeruk.

Sehingga produksi jeruk Sumut benar-benar anjlok khususnya tiga tahun terakhir. “Tahun ini saja jeruk kita mulai banyak lagi, karena banyak daerah yang sudah mengembangkan jeruk manis, seperti Kabupaten Dairi dan Simalungun,” sebutnya.

Saat ini, Sembiring hanya mampu memasok buah jeruk ke Pasar Induk sekitar 20 ton per minggu. Itu juga kalau lagi panen raya, tetapi kalau musim trek (buah sedikit), pengiriman hanya bisa dilakukan sebanyak 5 ton per minggu.

“Begitu juga dengan harga tergantung banyak tidaknya buah. Kalau seperti sekarang ini musim buah, harga jeruk benar-benar anjlok. Tetapi bukan harga jeruk manis saja yang anjlok, hampir semua jenis buah harganya anjlok saat musim buah tiba,” kata Sembiring.

Begitupun, kata dia, harga tolak jeruk manis di Pasar Induk Jakarta untuk jeruk medan saat ini berkisar Rp 10.000 – Rp 15.000 per kg. “Kalau buah lagi sepi harga tolakannya bisa menembus angka antara Rp 15.000 – Rp 30.000 per kg. Kalau harga tinggi tentu harga beli ke petani juga tinggi. Dan, sebaliknya kalau harga jualnya rendah harga pembelian ke petani juga rendah seperti yang terjadi sekarang ini,” sebutnya.

Dalam pembelian hasil panen jeruk petani, Sembiring mengaku tergantung si petaninya, boleh borongan atau hitung kiloan. Namun, kalau untuk harga, menurut pria yang sudah empat tahun menjadi pemasok jeruk manis ke Pasar Induk ini, tergantung dari infrastruktur atau jalan menuju lokasi yang akan dipanen.

Semakin jauh jarak tempuh maka harganya akan berkurang. Dan, itu juga harus dilihat kondisi jalannya. Kalau memang medannya berat atau jalannya parah harga pembelian ke petani semakin rendah, tetapi kalau jalannya bagus meskipun jaraknya jauh harga tidak akan jauh berkurang.

“Jadi, semua itu harus diperhatikan karena menyangkut biaya yang harus kita keluarkan. Seperti di Desa Panribuan, Kecamatan Dolok Silau ini misalnya, jalan menuju ke lokasi perkebunan benar-benar parah dan risikonya sangat tinggi. Kami hanya bisa memberi harga jeruk manis sekitar Rp 4.000-an per kg.

Tetapi, kalau saja jalannya bagus harga bisa kami berikan Rp 5.000-an per kg,” sebutnya.

“Itu harga yang terjadi sekarang ini. Dan, harga jeruk memang sering anjlok ketika musim panen raya ke dua tiap tahunnya. Di mana panen juga terjadi pada buah-buahan lainnya seperti rambutan, duku, mangga dan manggis. Sehingga banyak pilihan konsumen,” terangnya.

Tetapi tidak demikian di panen perdana, harga selalu lebih tinggi. “Dalam setahun, jeruk dua kali mengalami panen raya. Pertama, bulan Januari hingga Februari dan bulan Juni hingga Oktober untuk panen raya kedua,” jelas Sembiring. (Medan Bisnis)

Advertisements
Categories: Pertanian
  1. No comments yet.
  1. No trackbacks yet.

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

%d bloggers like this: