Home > Sinabung > Sinabung Belum Tenang, Warga Gurki Terpaksa Bangun Gubuk di Pinggir Jalan

Sinabung Belum Tenang, Warga Gurki Terpaksa Bangun Gubuk di Pinggir Jalan

Sejumlah warga Desa Gurukinayan membuat hunian sementara di sepanjang jalan menuju desa tersebut. Warga terpaksa mendirikan hunian sementara karena belum normalnya aktivitas Gunung Sinabung. (SIB)

Sejumlah warga Desa Gurukinayan membuat hunian sementara di sepanjang jalan menuju desa tersebut. Warga terpaksa mendirikan hunian sementara karena belum normalnya aktivitas Gunung Sinabung. (SIB)

PAYUNG: Gunung Sinabung yang masih berstatus Siaga (level 3) terpaksa membuat warga Desa Gurukinayan, Kecamatan Payung, Karo, mendirikan hunian sementara berupa gubuk di sepanjang jalan menuju desa yang berjarak sekitar 3 Km dari puncak kawah Sinabung.

Informasi diperoleh di lapangan, Selasa (23/9), sebanyak 200 KK terpaksa mendirikan rumah–rumah darurat di kawasan tersebut dengan menggunakan bantuan uang tunai yang diberikan pemerintah beberapa waktu lalu.

Salah satu warga, Mulai Mehuli Tarigan (48) mengaku, dirinya bersama warga lainnya sudah berada di kawasan itu selama 2 bulan terakhir. Dikatakan, dengan menggunakan kayu bakar untuk kebutuhan masak sehari–hari, dan 1 unit genset sumbangan  dermawan untuk penerangan, warga di kawasan itu saling bahu – membahu menjalani kehidupan sehari–hari.

“Sampai hari ini kami masih mampu bertahan hidup di sini dengan bekerja serabutan, ada yang mengumpulkan barang – barang bekas (botot – red), dan sebagian lagi bekerja sebagai aron di ladang – ladang masyarakat. Kami masih sangat membutuhkan bantuan dari pemerintah, terutama untuk anak–anak kami yang masih bersekolah. Untuk makan saja kami hanya seadanya. Mana mungkin kami bisa menanggung biaya sekolah yang selalu mendesak. Sedangkan kami hanya kerja serabutan, untuk mengolah lahan pertanian yang diterjang erupsi, tentu masih belum bisa,” paparnya.

Dia berharap, pemerintah  memberikan mereka modal, agar dapat berusaha sendiri dan tidak selalu mengharapkan belas kasihan para dermawan yang sering melintas di kawasan itu. Dikatakan lagi, dari lokasi hunian sementara mereka masih sering mendengar suara gemuruh yang berasal dari Gunung Sinabung apabila terjadi guguran lava. Kondisi itu katanya, sangat menakutkan apalagi saat hujan turun deras.

Ditempat yang sama, juga ditemui satu bangunan yang sebenarnya tak layak disebut sebagai rumah, karena bangunan itu merupakan gubuk (sapo – red) berdinding tepas dan beralas tanah. Di gubuk itu hidup 7 kepala keluarga yang juga merupakan korban erupsi Sinabung asal Desa Gurukinayan dan tinggal di hunian sementara.

“Kami menyewa gubuk ini beserta lahannya secara bersama – sama. Sehari–harinya kami juga bekerja serabutan untuk memenuhi kebutuhan sehari–hari. Disamping itu, kami bercocok tanam memanfaatkan lahan yang kami sewa ini. Sebenarnya kami tak terlalu berharap banyak lagi dari pemerintah, yang terpenting adalah kelangsungan sekolah anak–anak kami, itulah yang menjadi permasalahan utama kami saat ini,” ungkap Marina br Surbakti, Yanti br Milala, dan Ina br Surbakti yang tinggal di gubuk itu. (SIB)

Categories: Sinabung
  1. No comments yet.
  1. No trackbacks yet.

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

%d bloggers like this: