Home > Sinabung > Curhat Pengungsi Erupsi Sinabung: Sungguh Getir Kehidupan Kami

Curhat Pengungsi Erupsi Sinabung: Sungguh Getir Kehidupan Kami

Pengungsi sedang memilah-milah barang bekas yang didapat dari hasilnya memulung di salah satu tempat di wilayah di Kabupaten Karo, Selasa (7/10). (Andalas)

Pengungsi sedang memilah-milah barang bekas yang didapat dari hasilnya memulung di salah satu tempat di wilayah di Kabupaten Karo, Selasa (7/10). (Andalas)

KABAN JAHE: Warga yang tertimpa bencana erupsi Gunung Sinabung terpaksa banting setir mencari uang untuk menafkahi anggota keluarganya. Lahan pertanian yang semula diharapkan dapat menghidupi keluarga dari hasil bercocok tanam tidak lagi memberi harapan untuk membangkitkan gairah perekonomian masyarakat desa.

Sebagian mereka tak terkecuali kaum bapak, ibu dan kaum muda pun terpaksa menjalani profesi baru sebagai pengumpul barang bekas (pemulung) dan menjadi buruh tani di negeri orang dengan penghasilan yang pas-pasan.

Potret kehidupan ini terjadi akibat keadaan desa sudah benar-benar hancur diluluh lantakkan serbuan badai matrial debu vulkanik erupsi Sinabung berskala besar setahun lalu. Seperti yang terjadi di Desa Sigarang-garang (radius 2,8 KM dari puncak kawah). Rumah-rumah penduduk, fasilitas desa, termasuk aliran listrik PLN benar-benar rusak tak bermanfaat.

Begitu juga areal pertanian yang luas tidak dapat lagi ditanami sebagai penghasil tanaman hortikultura. Apa lagi sepekan terakhir ini Sinabung kembali menunjukan aktifitasnya, debu-debu vulkanik hampir menyelimuti sejumlah desa dan kecamatan di sekeliling Sinabung hingga merusak lahan pertanian di Kecamatan Merdeka dan Berastagi hingga ke sejumlah wilayah kabupaten/kota di Sumut lainnya.

Peristiwa bencana yang mengegerkan ini, kini menyebabkan kondisi masyarakat yang bermukim di sekitar lereng Sinabung, semakin memprihatinkan. Betapa tidak mata pencaharian warga lumpuh total.

Warga yang sebelumnya hidup berkecukupan dari hasil pertaniannya, kini terpaksa hidup dengan seadanya bahkan bisa dibilang melarat dan sekarang sangat  mengharapkan bantuan-bantuan dari para dermawan.

“Rencananya kami dipulangkan dari posko pengungsian minggu lalu. Namun karena tidak ada kepastian akan kelangsungan hidup kami dari pemerintah tidak jadi dipulangkan. Seandainya pulang pun kami mau makan apa, sebab tidak ada jaminan dan kebijakan untuk kelangsungan hidup dari Pemerintah usai kami dipulangkan. Saat ini kami ada sekitar 10 KK yang menetap di desa, sementara warga lainnya (sekitar 400 KK) masih bertahan di pengungsian,” kata Sekretaris Desa Sigarang-garang, Bahtera Sembiring Pandia didampingi warganya, Dani Sembiring saat berbicara sekaligus curhat (curahan hati), Selasa petang (7/10).

Dikatakan, sebelumnya desa mereka juga diwacanakan direlokasi karena berada pada radius  sekitar 3 KM dari puncak kawah Sinabung. Sebelumnya pemerintah juga mengagendakan desa kami (Desa Sigarang – Garang), Desa Suka Nalu, dan 3 desa lainnya (Simacem, Bekerah, dan Sukameriah) direlokasi karena berada pada radius 3 km.

Namun belakangan tidak jadi, dan hanya 3 desa itu saja akhirnya yang akan direklokasi, itupun kabarnya masih membingungkan serba tidak jelas. Sampai saat ini kami belum dapat berbuat banyak, lahan pertanian kami yang diterjang abu vulkanik juga belum bisa diolah.

“Terpaksalah kami jadi aron (buruh tani) dan pengumpul barang bekas, bahkan ada yang menjadi tukang cuci piring warung nasi, tukang cuci pakaian untuk memenuhi kebutuhan sehari-hari, sungguh getir kehidupan kami,” tuturnya.

Anehnya, Dinas Pertanian Pemkab Karo tidak pernah mengecek lahan pertanian mereka yang ada di desa, hanya yang di pinggir-pinggir jalan saja yang di lihat. Warga desa juga pernah meminta agar Pemerintah membantu mentraktor lahan pertanian yang kini diselimuti material debu vulkanik setebal 8 cm. Namun permintaan itu hingga saat ini tidak terealisasikan.

“Abu vulkanik di lahan pertanian kami tebalnya kira-kira 8 cm, kalau dicangkul saja hasilnya sia-sia saja. Kami sudah pernah coba mengolah lahan kembali, dan menanam berbagai jenis tanaman. Namun percuma karena kandungan abu vulkanik yang cukup tebal menyebabkan tanaman menjadi tidak dapat tumbuh,”katanya.

Selain itu sambungnya, apabila turun hujan maka sumber air yang biasa digunakan masyarakat untuk kebutuhan mandi dan air minum tidak bisa digunakan lagi karena apabila hujan sember air itu menjadi tercemar lumpur debu vulkanik.

Dikatakannya, kami merasa di anak tirikan sebab tidak ada dapat bantuan sewa rumah dan lahan seperti desa – desa lainnya. Padahal kondisi  yang dirasakan ini jauh lebih parah dari sebagian mereka yang mendapat bantuan tersebut. Selain itu pemerintah juga selalu hanya memberikan iming-iming (janji-janji).

“Selalu saja klise, akan kita usulkan, akan kita laksanakan, sedang dalam proses, kata seperti itu yang kerap diucapkan tidak sesuai dengan kenyataan yang kami terima dilapangan,” kecamnya. (Andalas)

Advertisements
Categories: Sinabung
  1. No comments yet.
  1. No trackbacks yet.

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

%d bloggers like this: