Archive

Archive for the ‘Ekbis’ Category

Semrawut, Pasar Berastagi Butuh Penataan

Pasar Berastagi (www.panoramio.com)

Pasar Berastagi (www.panoramio.com)

BERASTAGI: Pusat pasar Berastagi semrawut dan macet diakibatkan banyaknya pedagang kaki lima dan asongan yang dengan bebasnya menjajakan barang dagangan mereka hingga ke badan jalan, sehingga membuat keadaan tata kota menjadi pemandangan yang tidak enak dipandang mata.

Salah satunya sepanjang Jalan Veteran terlihat disesaki para pedagang kaki lima yang memenuhi badan trotoar yang membuat para pengguna jalan yang menjadi sangat terganggu.
Menurut salah satu warga Berastagi, N Girsang, keadaan tata kota ini menjadi macat total seperti di Jalan Veteran. Untuk berjalan kaki saja sudah sulit, akibatnya para pedagang kakilima memenuhi badan jalan, ditambah lagi dengan parkir yang tidak tertata yang membuat kemacetan setiap sore terjadi.
“Pihak Dinas perhubungan seharusnya turun langsung melihat kondisi jalan dan perparkiran yang sangat tidak tertata dengan baik, sehingga terjadi kesemrawutan ditambah lagi dengan pusat Pasar Berastagi yang terlihat sangat jorok dan amburadul seperti keadaan jalan yang kupak-kapik membuat suasana kesemrautan semakin lengkap,” kata Girsang.
Girsang mengharapkan, Pemerintah Kabupaten Karo bisa melihat dan membenahi kesemrawutan tata kota wisata Berastagi sebagai salah satu kota pariwisata.
Sementara itu pantauan di lokasi pusat Pasar Berastagi, terlihat para pedagang dengan memaksakan berniaga di badan jalan raya sehingga tidak lagi memperhatikan keselamatan diri dan menempatkan barang dagangan mereka ditengah badan jalan yang kupak-kapik demi menghidupi keluarga.
“Tentunya hal ini sudah diperlukan penataan pedagang kakilima dari pusat Pasar Berastagi agar para pedagang bisa diarahkan ke tempat yang lebih baik seperti didalam pasar tradisional losd inpres untuk mengurangi kesemrawutan serta kemacetan,” ujar Girsang. (Jurnal Asia)
Advertisements
Categories: Ekbis

Dampak Erupsi Sinabung, BRI Tangguhkan Kredit Rp 70 Miliar

bri

Ilustrasi (www.karokab.go.id)

BERASTAGI: Wujud kepedulian BRI terhadap masyarakat Tanah Karo, terutama warga terkena erupsi Gunung Sinabung, sekitar 1.300 nasabah mikro diberi dispensasi penangguhan kredit selama setahun.

Penangguhan terhitung  mulai Pebruari 2014 sampai Pebruari 2015 diperkirakan mencapai Rp70 miliar. Pertumbuhan ekonomi masyarakat  per Agustus 2014 ditinjau dari simpanan mencapai Rp456,5 miliar, pinjaman berkisar Rp412,3 miliar dan nasabah mencapai 84.408 jiwa dan debitur diperkirakan 20.358.

Hal itu dinyatakan Kepala Pimpinan Cabang (Pinca) BRI Kabanjahe, Ismail melalui stafnya, Gamaldi Abimastyo didampingi Kepala BRI Cabang Sibolangit, Lusten Sembiring, kepada wartawan di sela-sela acara penarikan Simpedes di Open Stage, Berastagi, Selasa (16/9).

Dalam penarikan Simpedes itu, hadiah utama  mobil Daihatsu Terios Type E diraih, Martin Ginting dari Simpang Empat. Hadiah sepeda motor, masing-masing diraih Anri Purba dari  Saribu Dolok, Elisma Br Karo dari Tigabinanga dan Aswin Sinulingga dari Tigapanah serta hadiah menarik lainnya.

Bupati Karo, PLt Terkelin Brahamana, SH dalam sambutan tertulisnya  dibacakan Mulianta Tarigan mengatakan, melalui acara Simpedes dengan menampilkan hiburan dan ramah-tamah diharapkan dapat meningkatkan keakraban dan persaudaraan yang lebih mengikat.

Pemerintah Kabupaten Tanah Karo mengucapkan terima kasih atas keringanan dan perhatian pihak BRI kepada masyarakat Tanah Karo, khususnya warga terkena erupsi Sinabung.

“Salah satu di antaranya, memberi penangguhan pembayaran kredit kepada 13000 nasabah mikro selama setahun akibat terkena bencana erupsi Sinabung. Ini adalah wujud kepedulian yang sangat kita harapkan dapat meringankan beban bagi warga yang terkena erupsi dan mempunyai kredit di BRI,”ujar Tarigan.

Sebelum acara Simpedes, diawali arakan barisan dari Kota Kabanjahe dan melepas balon di halaman Open Stage. (Analisa)

Categories: Ekbis

Nasabah Bumi Asih Jaya Kabanjahe Mengadu ke DPRD Karo

Logo Bumi Asih Jaya (gagasanriau.com)

KABANJAHE: Setelah izin operasional Asuransi Bumi Asih Jaya dicabut Otoritas Jasa Keuangan (OJK) pada 18 Oktober 2013 lalu, akibat tidak dapat memenuhi Risk Basal Capital (RBC) yang ditetapkan sebesar 120 persen, menimbulkan keresahan pada nasabahnya.

Ratusan nasabah Asuransi Bumi Asih Jaya (BAJ) Kabanjahe mendatangi kantor DPRD Karo, Kamis (4/9). Tujuan mereka untuk mengadukan nasib prihal belum jelasnya pembayaran uang premi nasabah Kabanjahe oleh pihak AJB.

Dalam pertemuan di ruang DPRD Karo, salah seorang nasabah Mahdalena Br Sembiring warga Jalan Kapten Bangsi Sembiring menyampaikan kepada anggota dewan, mereka mulai menaruh kecurigaan kepada pimpinan BAJ Kabanjahe yang lama, yakni Rahman Tarigan.

“Semua polis kami sudah diminta karyawan BAJ marga Sembiring dan Ginting atas suruhan Rahman dengan alasan agar uang kami bisa segera dibayarkan pihak perusahaan, tapi sampai saat ini kami hanya menerima janji. Wajar menaruh kecurigaan itu,”ujarnya.

Sedang Br Sinulingga meminta, agar DPRD Karo menanggapi keluhan para nasabah.”Kami minta DPRD Karo tanggapi keluhan kami ini. Persoalan ini sudah kami laporkan kepada pihak Polres Karo tetapi belum ada perkembangannya,”kata br Sinulingga.

Menanggapi keluhan warga Karo itu, Wakil Ketua DPRD Karo Onasis Sitepu berjanji akan melakukan mediasi kepada pihak BAJ.

“Kami hanya bisa melakukan mediasi. Diminta pimpinan segera mengagendakan rapat dengar pendapat membahas hal ini. Secepatnya DPRD Karo akan menyurati BAJ untuk memberikan penjelasan kepada nasabah yang ada di Kabanjahe. Surat resmi akan dikirim kepada Pimpinan BAJ di Jakarta, Medan dan Kabanjahe, hingga mendapatkan kejelasan soal dana yang tersimpan,” katanya.

Onasis juga memberi harapan, anggota DPRD Karo tetap mendampingi nasabah bahkan akan mencari keberadaan kantor BAJ di Kabanjahe. (Analisa)

Categories: Ekbis

Pasokan dari Karo Melimpah, Harga Sayur di Medan Turun

Ilustrasi pasar (dok)

Harga sayuran di Medan terus mengalami penurunan dalam beberapa pekan terakhir menyusul lancarnya pasokan dari sentra penghasil sayuran di Tanah Karo. Apalagi, saat ini petani sedang memasuki musim panen.

Rosmalia, salah satu pedagang di Pusat Pasar mengatakan, kira-kira dua bulan terakhir pasokan sayuran yang masuk ke pedagang terus lancar. “Apaklagi pada dua pekan ini, pasokan yang masuk sangat banyak, makanya pedagang menurunkan harga,” katanya.

Pantauan di sejumlah pasar, harga sayuran seperti sawi putih kini dijual dengan harga Rp6.000 per kg turun dari Rp8.000 per kg, begitu juga dengan kol, kembang kol dan brokoli yang dijual dengan harga yang sama.

Tomat juga turun dari Rp7.000 menjadi Rp6.500 per kg. Rata-rata, sayuran di pasaran Kota Medan turun antara 5% hingga 25% dalam dua pekan ini. Debora, pedagang di Pasar Petisah juga mengakui hal yang sama. Saat ini, kata dia, pasokan yang masuk ke pedagang meningkat lebih dari 40% dibanding sebelum Lebaran lalu.

“Sebelum Lebaran kemarin kami kewalahan mencari pasokan tambahan, sekarang malah pasokan membanjir,” katanya.

Diungkapkannya, dalam sehari, rata-rata pedagang bisa memasok hingga 400 kg sayuran setiap hari, dengan lancarnya pasokan tersebut, pedagang bisa memasok lebih dari 500 kg setiap hari. Lancarnya pasokan tersebut lantaran saat ini petani sedang memasuki masa panen.

“Bisa jadi, panen di sana tahun ini sangat melimpah,” katanya. Selain lancarnya pasokan, harga pengambilan dari para pengumpul juga sedikit turun dari biasanya. Makanya, pedagang juga turut menurunkan harga.

Turunnya harga sayuran tersebut memicu terjadinya peningkatan permintaan konsumen. Pedagang mengaku, saat ini permintaan sayuran meningkat cukup signifikan dibanding beberapa waktu sebelumnya.

Rata-rata, permintaan sayuran dari masyarakat dan pengusaha rumah makan naiik 20%. Pedagang pun semakin diuntungkan dengan keadaan seperti ini. Selain omzet penjualan yang terkerek naik, lancarnya pasokan sayuran tersebut juga dimanfaatkan pedagang untuk menyetok barang mengantisipasi terjadinya kelangkaan sayuran.

“Tapi menyetok dalam jumlah sedikit karena biasanya sayuran cepat rusak dibanding barang yang lain. Yang kami lakukan saat ini hanya untu jaga-jaga, karena bisa jadi besok sayuran langka,” jelas Ramli, pedagang di Pasar Aksara.(Medan Bisnis)

Categories: Ekbis

Harga Sayuran di Karo Anjlok hingga 60%

Pajak Berastagi (medanmagazine.com)

Pasca-Lebaran, harga sayuran di Kabupaten Karo turun hingga 60%. Penurunan harga tersebut diperkirakan karena meningkatnya produksi sayuran di Kabupaten Karo dan produsen sayuran lainnya di sejumlah daerah di Sumut.

“Sayur mayur seperti kol, kentang, wortel, brokoli, kol bunga, sawi pait, sawi manis, tomat, buncis, daun soup, bawang pre, dan cabe merah kian hari semakin tidak ada kepastian harga,” kata Irma Surbakti, seorang pedagang sayuran di Pajak Berastagi, Senin (3/9).

Dipaparkannya, harga kol yang sebelumnya Rp1.200/kg, turun menjadi Rp 500/kg, kemudian kentang Rp 3.000/kg turun jadi Rp 2200/kg, wortel turun menjadi Rp1.600/kg dari yang sebelumnya Rp2.500/kg. Sementara itu bunga kol yang sebelumnya Rp1.700/kg turun menjadi Rp9.00/kg. Selanjutnya, brokoli turun dari yang sebelumnya Rp1.500/kg menjadi Rp800/kg, tomat Rp2.500/kg turun menjadi Rp1.400/kg serta harga cabe yang turun menjadi Rp20.000/kg dari harga sebelumnya Rp30.000/kg.

Kepala Dinas Koperasi dan UKM Kabupaten Karo Mulia Barus, ketika dikonfirmasi membenarkan adanya penurunan harga komoditas sayuran tersebut di tingkat pengumpul. Menurutnya, hal ini dikarenakan di daerah sentra produksi sayuran lainnya mengalami peningkatan produksi, daerah tersebut seperti Simalungun, Sidikalang dan yang lainnya.

“Karenanya kami berharap, petani bisa meningkatkan daya saing yang baik. Hal ini mengingat pasar Kabupaten Karo dan daerah produsen lainnya hampir sama, yakni ke Aceh dan Medan,” ujar Mulia Barus.

Pemkab sendiri, lanjutnya, akan mengupayakan perluasan pasar komoditas sayuran Tanah Karo. Sehingga, lanjutnya, harga bisa membaik dan stabil. “Penurunan harga sayur saat ini, kami perkirakan tidak memakan waktu yang lama, seperti tahun sebelumnya,” tambah Mulia Barus. (Medan Bisnis)

Categories: Ekbis

Bupati Karo Blusukan ke Pusat Pasar Kabanjahe

Bupati dan anggota DPRDSU berdialog dengan pedagang Pasar Kabanjahe (Andalas)

Bupati Karo DR (HC) Kena Ukur Karo Jambi Surbakti dan anggota DPRDSU Richard Eddy M Lingga, Layari Sinukaban, Asisten I Terkelin Purba,  Camat Kabanjahe Drs Lesta Karo-Karo MM, mengunjungi para pedagang di Pusat Pasar Kabanjahe, Kamis  (19/7).

Para pejabat ini ingin melihat langsung kondisi rill masyarakat menjelang bulan suci Ramadan sekaligus mengantisipasi adanya kenaikan harga sembilan bahan pokok (sembako). Kedatangan anggota DPRDSU dari Dapem X (Kabupaten Karo, Dairi dan Pakpak Barat) serta Bupati Karo DR HC Kena Ukur Karo Jambi Surbakti itu, disambut antusias para pedagang.

Terlihat dialog dan percakapan penuh kekeluargaan antara pedagang dan masyarakat yang kebetulan berbelanja kebutuhan pokok. Pada tinjauan langsung secara spontan itu, tidak ada terlontar keluhan dari para pedagang akan kenaikan harga dan kurangnya pasokan sembilan bahan pokok dari Medan.

Namun, pasokan sembako dan kebutuhan lainnya, cenderung lambat datangnya dari Medan semisal ayam potong. Menurut sejumlah pedagang, mereka tidak akan menaikkan harga di saat bulan Puasa, jika para distributor juga tidak menaikkan harga mengingat daya beli masyarakat akhir-akhir ini cenderung menurun.

Harga-harga kebutuhan akan tetap dipertahankan sebagai mana harga biasanya, kecuali jika ada kenaikan harga dalam pembelian. “Kami tidak akan menaikkan harga kebutuhan selama Ramadan jika harga beli dari Medan tidak naik” kata salah seorang pedagang, Sri Ulina Br Ginting (38) saat dialog dengan Bupati dan Angota DPRD SU.

Sementara pedagang ayam, N Br Karo (46) mengaku terpaksa menaikkan harga jual daging ayam potong dari Rp27 ribu per kg menjadi Rp30 ribu per kg karena pihak penyuplai daging ayam di Medan menaikkan harga jual.

Pengakuan tulus dari para pedagang dengan tidak semena-mena menaikkan harga kebutuhan pokok  disambut gembira bupati, termasuk kedua anggota DPRDSU. “Kami sangat gembira jika tidak ada kenaikan harga, tolong kita hormati saudara-saudara kita yang menjalankan ibadah puasa, kasihan umat muslim jika pedagang menaikkan harga dengan sesuka hati, inilah contoh pedagang yang baik,” kata bupati.

Menyahuti tidak adanya keluhan pedagang dengan tetap stabilnya harga- harga kebutuhan pokok selama Ramadhan, juga disambut baik Layari Sinukaban dan Richad Lingga. Kedua pentolan kader partai dari Demokrat dan Golkar ini bersikukuh akan tetap membela dan memperjuangkan hak-hak pedagang, petani dan masyarakat lainnya.

Richard Lingga mengajak para pedagang tidak segan-segan melaporkan jika ada spekulan menimbun stok barang menjelang bulan suci Ramadan, dan memaksa para pedagang menaikkan harga jual kebutuhan pokok tertentu.

“Siapapun dia, sampaikan kepada kami anggota DPRDSU maupun ke kantor Bupati Karo, pemerintah akan menindak tegas,” ujar anggota Komisi E DPRDSU yang dikenal vokal dan rajin turun ke dapemnya ini, sembari mengharapkan aparat dari Polres Karo memaksimalkan peran intelnya di lapangan menjelang bulan suci Ramadan maupun menjelang hari-hari besar Agama lainnya seperti Natal dan Tahun Baru nanti.

Hal senada dikatakan Layari Sinukaban, bahwa pihaknya di DPRD SU, tidak pernah berdiam memperjuangkan anggaran pembangunan di Kabupaten Karo. “Bersama teman-teman anggota DPRD SU lainnya dari Dapem X, sudah banyak kami perjuangkan ke Kabupaten Karo, Dairi dan Pakpak Barat,” katanya.(Andalas)

Categories: Ekbis

Harga Tomat dan Sayur Pahit di Karo Anjlok

Petani menyemprot tomat (Antara)

Harga pasaran tomat dan sayur pahit di Tanah Karo terus menurun. Tidak mengherankan petani merugi dalam jumlah yang cukup besar.

Petani tomat di Desa Sukatendel, Tiganderket, Natanael Perangin-angin (32) mengatakan sudah sebulan lebih harga pasar tomat turun hingga mencapai harga Rp1.000. Tak jarang pertani harus rela menjual tomatnya seharga Rp800/Kg.

“Sejak panen harga tomat tidak pernah tinggi, malahan terus-menerus anjlok dari harga Rp1.200/Kg hingga Rp 800/Kg,” ujarnya, kemarin.

Hal senada juga diungkapkan Semangat Ginting (60), yang juga mengeluhkan rendahnya harga jual sayur pahit. Jika biasanya sayur pahit masih bisa dijual Rp700, belakangan turun menjadi Rp500/Kg.

“Sudah tiga kali saya menanam sayur pahit dan tidak pernah dapat untung. Malahan terus menerus mengalami kerugian, sedangkan untuk biaya kebutuhan anak sekolah sudah sangat mendesak dan tidak dapat ditunda,” kata Semangat.

Anjolknya harga tomat dan sayur pahit itu berdampak pada perekonomian para petani. Apalagi saat ini diperlukan biaya kebutuhan sekolah anak-anak yang akan memasuki tahun ajaran baru nanti.

“Kebutuhan anak sekolah yang tidak bisa tidak terutama untuk membeli sepatu, tas, baju, celana, dan buku sangat diperlukan biaya,” tambahnya.(Analisa)

Categories: Ekbis