Archive

Archive for the ‘jalan-jalan’ Category

10.000 Bikers Moge akan Singgah di Berastagi

Logo HDCI (dok)

Sekitar 10.000 bikers akan berkumpul di Kota Medan untuk mengikuti Sumatera Bike Week 2012 yang digelar pengurus Harley Davidson Club Indonesia (HDCI) Sumatera Utara pada 26-30 September.

Ketua HDCI Sumut yang juga Ketua Ikatan Motor Indonesia (IMI) Sumut Musa Rajekshah alias Ijeck di Medan, Sabtu mengatakan, dalam even berskala internasional ini, para bikers yang berasal dari seluruh Indonesia dan beberapa negara ASEAN seperti Malaysia, Singapura dan Thailand ini akan berkumpul menggelar sejumlah kegiatan bermotor.

“Tujuannya untuk mempromosikan tempat-tempat wisata di Kota Medan dan Sumut disertai kegiatan bakti sosial,” katanya.

Menurut dia, even yang akan dipusatkan di Lapangan Merdeka ini tidak hanya melibatkan motor gede tetapi juga motor kecil. Hal itu dilakukan dalam upaya menyatukan seluruh bikers di Indonesia, khususnya Sumut guna menjalin rasa persatuan.

Untuk itu dia akan menggandeng geng-geng motor yang ada agar ikut dalam kegiatan ini sehingga mereka bertindak positif. Untuk motor gede, lebih dari 1.000 yang telah menyatakan kesediaan untuk mengikuti even ini.

“Kita sengaja memilih Kota Medan sebagai tempat kegiatan ini dalam rangka untuk mempromosikannya. Kita melihat banyak tempat-tempat menarik, khususnya tempat-tempat wisata maupun tempat bersejarah,” katanya.

Gaung kegiatan tersebut jelasnya sudah tersebar ke seluruh Indonesia, malah sudah sampai Malaysia, Singapura dan Thailand.

Dalam rangka mempromosikan lokasi pariwisata, lanjutnya, kegiatan ini akan diisi dengan paket touring. Selain mengunjungi tempat-tempat wisata di Kota Medan, juga melakukan touring ke Brastagi, Danau Toba dan Bahorok.

“Diharapkannya, tempat-tempat wisata itu mampu mempesona para bikers sehingga kembali mengunjunginya,” katanya.

Tidak itu saja, Ijeck didampingi Ketua Panitia Sumatera Bike Week 2012 Faisal Nasution menambahkan, even ini juga akan diisi dengan serangkaian kegiatan sosial seperti memberikan bantuan satu set komputer untuk satu sekolah di setiap kecamatan. Selain itu mereka akan menggelar donor darah sehingga memberikan manfaat bagi warga yang membutuhkannya.

Sementara itu dalam pertemuan dengan Wali Kota Medan Rahudman Harahap dilaporkan selain Sumatera Bike Week 2012, IMI juga akan menggelar reli Seri III untuk memperebutkan Piala Wali Kota Medan pada 5-7 Oktober. Reli yang mulai dan finish di Lapangan Merdeka ini tidak hanya diikuti pereli asal Kota Medan, juga pereli dari beberapa kota Indonesia.

“Malah pereli asal New Zealand dan Malaysia telah menyatakan kesediannya untuk ikut reli ini dan kemungkinan pereli dari Inggris ikut dalam even ini,” katanya.

Sementara itu Wali Kota Medan Rahudman Harahap menyatakan dukungan dan apresiasi atas digelarnya kedua even tersebut. Untuk Sumatera Bike Week 2012, dinilainya sangat baik sekali karena bertujuan untuk mempromosikan tempat-tempat wisata di Kota Medan dan Sumut.

“Kita sangat mendukung even ini. Sebab, kegiatan ini menggambarkan Kota Medan sebagai kota yang aman, kondusif dan bersahabat sebagai kota tujuan wisata dan MICE (Meting, Insentif, Convention dan Exibition),” katanya.

Diharapkan seluruh bikers yang hadir dari seluruh Indonesia dan beberapa negara tetangga merasa enak dan terkesan dengan Kota Medan. Dengan begitu mereka akan datang berkunjung kembali.

Untuk reli, Wali Kota berharap agar start dan finish yang akan dilakukan di Lapangan Merdeka dibuat berbeda dari reli-reli sebelumnya. Dia mengusulkan agar start dan finish dilakukan pada malam hari.

“Selain untuk mengantisipasi terjadinya kemacetan, reli ini juga akan lebih meriah lagi karena dapat ditampilkan kembang api,” katanya.(Antara)

Advertisements
Categories: jalan-jalan

Mapala USU Bersihkan Puncak Gunung Sibayak

11/06/2012 1 comment

Gunung Sibayak (wisataindonesia23.blogspot.com)

Korps Mahasiswa Pencinta Alam dan Studi Lingkungan Hidup Universitas Sumatra Utara (Kompas-USU) melakukan aksi bersih berbagai jenis sampah nonorganik di seputaran puncak Gunung Sibayak, Kabupaten Karo.

Ketua panitia aksi bersih Gunung Sibayak Kompas-USU Johan Tobing di Medan, Minggu (10/6) mengatakan kegiatan tersebut dilakukan berkerja sama dengan Dinas Pariwisata Karo dalam rangka memperingati hari lingkungan hidup sedunia. Kegiatan itu melibatkan 60 relawan, bukan hanya dari Kompas-USU, namun juga dari berbagai Unit Kegiatan Mahasiswa (UKM) lainnya di perguruan tinggi itu.

Titik awal aksi dilakukan mulai dari Desa Lau Sidebuk-Debuk yang selama ini memang cukup banyak digunakan para pendaki sebagai titik start sebelum pendakian ke puncak Gunung Sibayak. “Rute awal dari Desa Lau Sidebuk-debuk, terus sepanjang jalur yang biasa digunakan para pendaki hingga ke puncak Gunung Sibayak yang diperkirakan memakan waktu sekitar tiga jam,” katanya.

Adapun sampah yang akan dibersihkan adalah berupa botol-botol minuman yang terbuat dari kaleng maupun plastik, bungkus sisa mie instan maupun sisa-sisa bungkus makanan lainnya yang sulit terurai oleh alam yang memang diperkirakan banyak berserakan di sepanjang rute. “Sampah-sampah itu kami kutip, dan dibawa turun. Di bawah nantinya ada petugas dari Dinas Pariwisata Kabupaten Karo yang telah siaga dengan truk sampah untuk kemudian membawanya ke Tempat Pembuangan Akhir (TPA),” katanya.

Ketua Kompas USU Dermawan Syahputra mengatakan, kegiatan tersebut akan dijadikan program rutin setiap tahunnya, bahkan kedepan direncanakan akan lebih ditingkatkan lagi dengan melibatkan relawan yang lebih banyak lagi, bukan hanya dari USU namun juga dari perguruan tinggi lainnya.

Dengan rutinnya kegiatan tersebut digelar, salah satu target yang hendak dicapai adalah semakin tingginya kesadaran para pendaki gunung untuk tidak membuang sampah sembarangan terutama sampah-sampah berupa kaleng dan plastik. “Bukankah para pecinta alam memiliki semboyan jangan meninggalkan sesuatu di gunung selain jejak kaki. Kalau tidak bisa membersihkan, minimal jangan membuat kotor,” katanya. (Antara)

Categories: jalan-jalan

Rumah Adat Karo Favorit Wisatawan Jerman

Rumah adat Karo (flickr.com)

Tanah Karo menjadi salah satu daerah di Sumatera Utara yang diminati wisatawan asal Jerman dengan alasan banyak objek wisata bersejarah.

Ketua Asosiasi Perusahaan Perjalanan Wisata Indonesia (Asita) Sumatera Utara, Solahuddin Nasution, di Medan, Senin, mengatakan wisatawan asal Jerman pada umumnya memang menyukai objek wisata yang mengandung sejarah dan juga alam yang penuh tantangan.

Karo dinilai Jerman salah satu daerah yang memiliki hal tersebut seperti Rumah Lingga di Kabupaten Karo. Selain itu adapula Barus, Tapanuli Tengah yang disebut-sebut sebagai pintu masuk pertama kalinya agama-agama besar ke Indonesia, Bukit Lawang dan Tangkahan di Langkat yang alamnya masih memiliki tantangan.

Meski jumlah wisatawan asal Jerman itu masih jauh di bawah kedatangan turis Malaysia, tetapi biasanya lama tinggal turis Jerman lebih lama. Para turis itu suka menjelajahi tempat-tempat bersejarah dan alam yang penuh tantangan yang dipastikan membutuhkan waktu lebih lama.

“Yang lebih bagus lagi, biasanya orang Jerman itu suka berulang atau datang lagi ke Sumut meski di tahun yang berbeda. Jadi sebenarnya potensi turis asal Jerman itu cukup besar,” katanya.

Pemerintah Provinsi Sumut maupun pemerintah kota/kabupaten yang memiliki objek wisata bersejarah dan alam yang memiliki kekhasan itu harusnya bisa merawat tempat wisata itu. Kepala Badan Pusat Statistik (BPS) Sumut, Suharno, menyebutkan, pada triwulan I 2012, memang hanya wisatawan asal Jerman dan Australia yang mengalami peningkatan kedatangan, selebihnya mengalami penurunan.

Jumlah kunjungan wisatawan dari Jerman pada triwulan I 2012 naik 17,30 persen atau mencapai 773 orang dari periode tahun lalu yang masih 659 orang. Kunjungan yang meningkat itu terlihat sejak Januari, di mana Februari sudah mencapai 243 orang dan naik lagi menjadi 317 orang di Bulan Maret. (Antara)

Categories: jalan-jalan

Sampuren Sikulikap yang Terlupakan

Air terjun Sikulikap (karokab.go.id)

Air terjun Sampuren Sikulikap merupakan salah satu objek wisata kebanggaan Tanah Karo Simalem yang terletak di Desa Doulu Pasar Kecamatan Berastagi Kabupaten Karo.

Saat ini Sampuren Sikulikap sudah jarang dikunjungi wisatawan, bahkan banyak pengunjung  yang datang ke Berastagi tidak mengenal objek wisata ini. Jalan menuju kawasan air terjun sudah tidak terawat bagaikan hutan yang jarang dikunjungi.

Johan, saat mendatangi Sampuren Sikulikap menyayangkan keadaannya saat ini. Pria penggemar fotografi ini berkunjung bersama dengan rekan-rekannya untuk mendokumentasikan air terjun  Sampuren Sikulikap.

Johan mengaku, kecewa saat sampai di lokasi, ia mengatakan keadaanya sangat tidak terawat. Jalan menuju lokasi sudah terputus bahkan ada juga longsor sehingga pria etnis Tionghoa ini bersama rombongannya kesulitan sampai di lokasi.

“Awalnya saya sangat bersemangat sampai di lokasi, tetapi keaadaan air  terjun sangat memprihatinkan, jalan sudah banyak yang rusak. Kami sempat mengabadikan beberapa gambar  air  terjun, sangat indah, sayang sekali objek wisata ini tidak dirawat,” ujar ayah dua orang anak ini.

Pria ini juga mengatakan saat di lokasi, dia tidak melihat satu pengunjung pun yang datang. Dari awal hingga mereka meninggalkan Sampuren Sikulikap hanya berlima. Padahal di atas lokasi air terjun ini sangat ramai dikunjungi wisatawan tepatnya di pembakaran jagung  jalan menuju Berastagi.

Saat ditanyai pengunjung yang berada di Pembakaran Jagung ini, kenapa tidak mengunjungi Sampuren Sikulikap, ada yang mengaku tidak mengetahui kalau di bawah objek wisata yang juga di sebut Penatapen ada air terjun. Ada juga yang beralasan tidak berani karena jalannya dipenuhi semak.

“Kami tidak tahu kalau ada air tejun di bawah ini, kalau tahu kami ingin juga mengunjungi lokasinya. Mungkin di kesempatan lain, bila saya ke Berastagi lagi saya akan mendatangi lokasi Sampuren Sikulikap, jadi penasaran,” kata Ubay, wisatawan yang mampir di Penatapen bersama rombongan sepeda motor.

Ismail salah satu guide di Bersatagi mengatakan pada era 90-an Sampuren merupakan objek wisata idola di Berastagi. Banyak dikunjungi wisatawan domestik maupun manca negara, bahkan penduduk Tanah Karo kerap mengunjungi lokasi wisata ini.

“Tahun 90-an Sampuren Sikulikap sangat digandrungi  wisatawan, saya sering membawa tamu dari luar negeri  ketempat itu. Tapi sekarang sudah sangat jarang orang mendatanginya bahkan sudah terlupakan,” kata pria berambut gimbal ini.

Mail mengaku saat ini, Sampuren sudah tidak dikenal lagi seperti dulu. Hal ini disebabkan tidak ada yang memperhatikan objek wisata tersebut.  “Mungkin tidak ada promosi dan perhatian dari pihak yang bersangkutan,” kata Mail yang di kalangan wisatawan mancanegara kerap di panggil Dr  Smiley ini.

Menurut Mail, lokasi air terjun sangat potensial sebagai tempat wisata tracking bagi turis dari luar negeri khusunya Eropa, selain itu bagi wisatawan lokal tempat ini juga dulunya sering dijadikan tempat barbekyu sambil menikmati kesegaran air dan kesejukan alam.

Menanggapi masalah ini Horison Sitepu, Ketua Komisi C DPRD Karo mengatakan pada saat pengesahan APBD Karo lalu  anggaran untuk objek wisata Sampuren Sikulikap tidak dianggarkan tahun 2012. “Tahun ini tidak diajukan anggaran  untuk objek wisata Sampuren Sikulikap oleh Pemkab Karo, saya tidak tahu pasti, kenapa. Bila diajukan, maka saya akan sangat mendukung karena Sampuren Sikulikap merupakan salah satu objek wisata terbaik di kabupaten ini,” kata Horison. (Sumut Pos)

Categories: jalan-jalan

7 Wisata Favorit Karo

Tanah Karo merupakan salah satu aset wisata andalan Sumatra Utara. Di sini tersebar berbagai objek wisata yang menarik untuk dikunjungi bahkan tersohor hingga mancanegara. Berikut ini 7 wisata favorit di Tanah Karo versi Karo_news: Read more…

Categories: jalan-jalan