Archive

Archive for the ‘Pertanian’ Category

Petani Karo Dilatih Menggunakan Pupuk Organik

Ilustrasi

Ilustrasi (bayamorganik.blogspot.com)

Rumah Bio Indonesia (RBI) Perwakilan Karo menggelar pelatihan, yang diikuti petani organik, Sabtu (20/9). Di samping pelatihan, pengetahuan tentang penggunaan pupuk organik juga dilakukan dengan penyesuaian ph tanah.

Menajeman RBI Karo, Irvan Dianta Sitepu mengaku, langkah yang sudah dilakukan pihaknya bersama petani sejak 4 bulan lalu.

Sudah terlihat kepedulian petani akan bahaya bila  masih terus menggunakan pupuk kimia yang berlebihan karena dapat merusak  tanaman juga membahayakan lahan.

RBI juga memberikan ruang bagi petani yang ingin menyatukan tujuan mereka, agar dalam mengapresiasikan temuan yang berbahan dasar organik untuk selanjutnya dilakukan uji laboratorium.

Dalam membangun bidang kewirausahaan  pertanian, RBI memberikan peluang untuk itu.  Pelatihan  mengundang  pakar pupuk organik, Utema Silan M MA yang mengupas masalah  bagaimana pernyakit bisa berkembang di lahan lahan pertanian.

RBI pusat, Darwis Harahap SP  mengaku, bangga  dilakukan terobosan yang  membiasakan masyarakat petani untuk melakukan pemupukan tanaman mereka menggunakan pupuk organik.

RBI pada prinsipnya berfungsi hanya dapat melakukan perpanjangan tangan bagi para produsen yang memberikan solusi bagi para petani.

Di samping mengeluarkan beberapa produk berbahan dasar organik, RBI juga memberikan pelatihan bagi petani dan memberikan ruang untuk melakukan konsultasi mulai pada masa sebelum tanam, awal tanam hingga pada masa tanam kembali.

Selain itu menyarankan para petani menggunakan pupuk berbahan dasar organik. Dalam waktu dekat, RBI juga akan segera mengeluarkan produk penyemprotan yang juga berbahan dasar organik, kata Darwis.

Perwakilan petani, Thomson Ginting mengaku kegiatan pelatihan menggunakan pupuk organik para petani  merasa senang.

Pada prinsipnya harapan utama petani, bagaimana hasil pertanian mereka bisa memenuhi kebutuhan pasar dan tidak membahayakan bagi konsumen, terutama ramah pada lingkungan.

Dengan ada RBI di Karo saat ini, selain bisa mengetahui lebih banyak akan tanaman organik juga dapat menambah pengalaman yang nantinya bisa dilanjutkan bagi generasi yang ada di daerahnya. (Analisa)

Advertisements
Categories: Pertanian

Tiga Tahun Terpuruk, Jeruk Karo Kini Mencoba Bangkit

Panen jeruk di Paribun, Panribuan, Kecamatan Dolok Silau, Kabupaten Simalungun (Medan Bisnis)

Panen jeruk di Paribun, Kecamatan Dolok Silau, Kabupaten Simalungun (Medan Bisnis)

Dalam waktu sekejap ember-ember itu terisi penuh dengan buah jeruk yang telah disortir. Ada yang berukuran kecil, sedang hingga berukuran besar. Masing-masing ukuran ditempatkan ke dalam keranjang berukuran sekitar 70 kg. Untuk selanjutnya, keranjang yang sudah penuh ditutup dan diikat dengan tali agar tidak terbuka. jeruk itu nantinya dikirim ke Pasar Induk Jakarta.

Itulah pemandangan yang terlihat dari pekerja-pekerja panen di lokasi perkebunan jeruk di Desa Paribun, Kecamatan Dolok Silau, Kabupaten Simalungun belum lama ini. Para pekerja itu memang sudah terlatih dalam memilih jeruk yang bagus dengan yang kurang bagus, serta ukuran sesuai yang dikendaki sang “majikan”.

“Kalau untuk ukuran kecil kita tolak ke pasar lokal saja. Tetapi untuk grade A dan B atau ukuran 8 – 12 buah per kilogram (kg) itu yang kita pasarkan ke Pasar Induk Jakarta,” aku Zein Sembiring, suplier jeruk manis di Kecamatan Dolok Silau memulai perbincangannya kepada MedanBisnis.

Sembiring mengaku permintaan jeruk medan (orang Jakarta sebut, jeruk Karo atau jeruk asal Sumatera Utara adalah jeruk Medan), sangat tinggi. Berkisar 8 ton per hari. Namun, permintaan itu belum terpenuhi karena kondisi jeruk di sentra-sentra jeruk saat ini bermasalah dengan serangan lalat buah dan hama penyakit yang banyak menyerang pertanaman jeruk.

Sehingga produksi jeruk Sumut benar-benar anjlok khususnya tiga tahun terakhir. “Tahun ini saja jeruk kita mulai banyak lagi, karena banyak daerah yang sudah mengembangkan jeruk manis, seperti Kabupaten Dairi dan Simalungun,” sebutnya.

Saat ini, Sembiring hanya mampu memasok buah jeruk ke Pasar Induk sekitar 20 ton per minggu. Itu juga kalau lagi panen raya, tetapi kalau musim trek (buah sedikit), pengiriman hanya bisa dilakukan sebanyak 5 ton per minggu.

“Begitu juga dengan harga tergantung banyak tidaknya buah. Kalau seperti sekarang ini musim buah, harga jeruk benar-benar anjlok. Tetapi bukan harga jeruk manis saja yang anjlok, hampir semua jenis buah harganya anjlok saat musim buah tiba,” kata Sembiring.

Begitupun, kata dia, harga tolak jeruk manis di Pasar Induk Jakarta untuk jeruk medan saat ini berkisar Rp 10.000 – Rp 15.000 per kg. “Kalau buah lagi sepi harga tolakannya bisa menembus angka antara Rp 15.000 – Rp 30.000 per kg. Kalau harga tinggi tentu harga beli ke petani juga tinggi. Dan, sebaliknya kalau harga jualnya rendah harga pembelian ke petani juga rendah seperti yang terjadi sekarang ini,” sebutnya.

Dalam pembelian hasil panen jeruk petani, Sembiring mengaku tergantung si petaninya, boleh borongan atau hitung kiloan. Namun, kalau untuk harga, menurut pria yang sudah empat tahun menjadi pemasok jeruk manis ke Pasar Induk ini, tergantung dari infrastruktur atau jalan menuju lokasi yang akan dipanen.

Semakin jauh jarak tempuh maka harganya akan berkurang. Dan, itu juga harus dilihat kondisi jalannya. Kalau memang medannya berat atau jalannya parah harga pembelian ke petani semakin rendah, tetapi kalau jalannya bagus meskipun jaraknya jauh harga tidak akan jauh berkurang.

“Jadi, semua itu harus diperhatikan karena menyangkut biaya yang harus kita keluarkan. Seperti di Desa Panribuan, Kecamatan Dolok Silau ini misalnya, jalan menuju ke lokasi perkebunan benar-benar parah dan risikonya sangat tinggi. Kami hanya bisa memberi harga jeruk manis sekitar Rp 4.000-an per kg.

Tetapi, kalau saja jalannya bagus harga bisa kami berikan Rp 5.000-an per kg,” sebutnya.

“Itu harga yang terjadi sekarang ini. Dan, harga jeruk memang sering anjlok ketika musim panen raya ke dua tiap tahunnya. Di mana panen juga terjadi pada buah-buahan lainnya seperti rambutan, duku, mangga dan manggis. Sehingga banyak pilihan konsumen,” terangnya.

Tetapi tidak demikian di panen perdana, harga selalu lebih tinggi. “Dalam setahun, jeruk dua kali mengalami panen raya. Pertama, bulan Januari hingga Februari dan bulan Juni hingga Oktober untuk panen raya kedua,” jelas Sembiring. (Medan Bisnis)

Categories: Pertanian

Pengendalian Citcit Harus Serentak

Lalat buah (dok)

Lalat buah atau citcit menjadi musuh petani buah, khususnya petani jeruk di sentra produksi jeruk di Sumatera Utara (Sumut) seperti Karo. Hama tersebut akan sulit dikendalikan jika tidak dilakukan secara serentak oleh semua petani.

Kepala Laboratorium Pengendalian Hama dan Penyakit Medan Johor Badan Proteksi Tanaman Pangan dan Hortikultura (BPTPH) Sumut Utema Silan mengatakan selama ini pengendalian lalat buah tidak dilakukan secara serentak oleh petani.

Padahal, sosialisasi tentang lalat buah dan penanganannya sudah dilakukan sejak lama. “Penanganan lalat buah tidak bisa dilakukan secara parsial, harus serentak, semua petani harus melakukannya,” ujarnya, kemarin.

Ia menjelaskan, sejak 2002, sosialisasi pengendalian lalat buah sudah dilakukan dengan mengumpulkan para petani. Sosialiasai tersebut terus dilakukan namun diakuinya yang menjadi persoalan yang lebih komplek adalah penanganan yang belum serentak.

“Karena itu sekarang pemerintah mencanangkan gerakan nasional pengendalian lalat buah, dan Karo sebagai sentra pengendaliannya diikuti kabupaten sekitarnya,” katanya.

Utema mengungkapkan, lalat buah merupakan hama yang dapat berkembang biak dengan cepat apalagi jika tidak ditangani dengan tepat. Teknologi yang selama ini digunakan petani adalah menggunakan perangkap yang dipasang di tangkai tanaman dengan sebuah botol/meblok yang mana di bagian dalamnya terdapat sex feromon (metil eugenol/me) yang ditambah dengan racun.

Perangkap yang dilengkapi dengan zat penarik lalat jantan dan racun tersebut efektif mengurangi serangan lalat buah. Namun akan menjadi sia-sia jika tidak dibarengi dengan pembersihan lahan secara rutin.  Menurutnya, beberapa petani sampai sekarang masih belum mau membersihkan lahannya dari jeruk yang membusuk di bawah pohonnya.

Padahal, jika jeruk yang membusuk tersebut tidak diambil akan menjadi pelindung bagi lalat buah untuk berkembang biak. “Karo sudah mencanangkan langkah yang tepat untuk mengendalikan lalat buah dengan menetapkan hari Jumat sebagai hari melakukan pembersihan kebun dari jeruk yang membusuk kemudian memasukkannya ke dalam plastik kedap udara,” jelas Utema.

Setelah di dalam plastik dan semakin membusuk selama beberapa waktu, jeruk tersebut bisa dijadikan sebagai pupuk. “Dengan begitu pengendalian lalat buah bisa dilakukan dengan praktis dan mudah serta menguntungkan karena jeruk yang membusuk tersebut akhirnya bisa dijadikan pupuk,” katanya.(Medan Bisnis)

Categories: Pertanian

Kelompok Tani di Tiganderket Dapat Bantuan 4 Traktor Tangan

Penyerahan traktor tangan kepada kelompok tani (Andalas)

Bupati Karo, DR (HC) Kena Ukur Surbakti mengatakan, bila ingin memacu pertumbuhan ekonomi di pedesaan salah satu prioritasnya adalah pengembangan sektor pertanian berbasis agribisnis.

Selain itu, organisasi merupakan wadah sangat penting dalam masyarakat, terutama kaitannya dengan penyampaian informasi (top down) dan panyaluran aspirasi (bottom up) para anggota. Dalam pertanian organisasi yang tidak kalah penting adalah kelompok tani.

Selama ini kelompok tani sudah terbukti menjadi wadah penggerak pengembangan pertanian di pedesaan. “Hal ini dapat dilihat dari manfaat kelompok tani dalam hal memudahkan koordinasi, penyuluhan dan pemberian paket teknologi,” kata bupati, saat memberikan bantuan empat hand traktor kepada empat kelompok tani di Desa Tiganderket Kecamatan Tiganderket, kemarin.

Lebih jauh, bupati mengajak warga desa berdialog terkait keluh kesah yang terjadi di daerah masing-masing. Alfianta Surbakti, warga desa Susuk mengharapkan bantuan hand traktor, karena bibit durian yang telah diberikan pemerintah telah ditanam di lokasi seluas 25 hektar di desa itu.

Sementara, lokasi itu tidak dapat digunakan traktor besar sehingga kami sangat butuh hand traktor. “Kalaupun tahun ini belum terealisasi, kiranya tahun depan kami telah menerimanya,” harapnya.

Sedangkan Adir Bangun, mewakili warga Desa Jandi Meriah berharap supaya irigasi di desa mereka diperbaiki. Karena lahan yang ada belum dapat ditanami, dikarenakan air kurang mencukupi.

Menyikapi keluhan masyarakat itu, bupati mengimbau Kepala Dinas  PUD Karo dan Dinas Pertanian bersama jajarannya agar proaktif dalam membantu petani mengakses berbagai skim pembiayaan bidang pertanian yang telah diprogramkan pemerintah.

“Program Usaha Agribisnis Pertanian (PUAP), Kredit Ketahanan Pangan dan Energi (KKP-E), harus dimaksimalkan,”katanya. (Andalas)

Categories: Pertanian

Rumah Kompos Berbiaya Rp200 Juta di Mardingding Terlantar

Rumah kompos di Mardingding (Andalas)

Keberadaan rumah kompos berbiaya Rp200 juta bersumber dana dari APBN melalui Bantuan Sosial (Bansos) TA 2010 dan sebagian dana swadaya masyarakat di Desa Mardingding, Kecamatan Mardingding menjadi bahan pertanyaan warga sekitar.

“Pasalnya, rumah kompos yang sesungguhnya lokasi untuk mengelola pupuk organik itu dijadikan menjadi gudang pribadi dan tempat tinggal karyawan pabrik jagung,” ungkap beberapa warga desa tersebut, salah satunya bermarga Ginting, kemarin.

Dikatakan Ginting, sudah hampir dua tahun rumah berukuran 8 x 11 M tersebut selesai dibangun. Namun, hingga saat ini belum pernah difungsikan alias dibiarkan telantar. “Kami juga heran, saat membuat bangunan tersebut sebagian dana dikutip dari warga yang katanya untuk menambahi dana bantuan dari pusat (Bansos APBN),”bebernya.

Celakanya, sampai sekarang tidak ada manfaatnya bagi warga.”Malah bangunan tersebut dijadikan ketua penyelenggara anggaran menjadi gudang alat-alat pertanian dan karyawan pabrik jagung milik ketua tersebut,“ sebut Ginting.

Lebih jauh dikatakannya, bangunan itu terkesan hanya modus ketua penyelenggara berkolaborasi dengan Dinas Pertanian Karo untuk menyedot dana Bansos dan uang rakyat. “Program ini terkesan menipu negara dan memeras uang rakyat. Hal ini sudah jelas menjadi asumsi kami, karena tidak bermanfaat bagi kami,” ketusnya.

Kepala Dinas Pertanian Karo Agustoni Tarigan ketika dikonfirmasi justru mengarahkan kepada Kepala Bidang yang memahaminya. Sementara Kepala Bidang Sarana dan Prasarana Ir Sri Idah Br Bangun mengatakan, pihaknya sudah pernah menegur oknum yang diduga mengalihfungsikan rumah kompos tersebut.

Saat disinggung fungsi rumah kompos, Sri Idah menyebutkan, manfaat rumah kompos dan alat pengelola yang ada di dalamnya untuk membuat pupuk organik, yang akan digunakan kelompok tani di desa tersebut.

Ditanya, bagaimana sistem penggunaan dan pengelolaan dana yang besumber dari pusat saat pembangunan fisik rumah tahun 2010 lalu, Sri Idah memberi jawaban berbelit-belit.

“Kalau masalah pengawasan, kami sudah memberikan arahan positif bagi pengguna dana. Namun, kalau ditanya sistem pengolahan dana, itu kan urusan saya sama para penyelenggara.Lagi pula untuk apa kalian soroti dana Bansos itu. Itu kan dana pusat, terlebih yang melobi ke atas kan kami juga,” kata Sri.(Andalas)

Categories: Pertanian

Gerakan Pelepasan Burung Jalak di Karo Makin Gencar

Pelepasan burung jalak di Kandibata (Andalas)

Berbagai teknik pengendalian hama lalat buah, baik secara tradisional maupun modern sudah banyak dilakukan, tapi hasilnya belum optimal, bahkan sering berdampak negatif bagi kesehatan.

Contohnya, penyemprotan dengan insektisida justru makin meningkatkan residu pestisida pada buah. Tingginya kandungan residu pestisida dapat berakibat fatal, tidak hanya terhadap kesehatan, tetapi juga merugikan perdagangan karena menurunnya produk pertanian yang diekspor.

Karena itu, diperlukan terobosan untuk menemukan cara pengendalian hama lalat buah secara efektif, efisien, dan ramah lingkungan. “Nah, menyikapi hal itu, sesuai dengan program Bupati Karo, pelepasan burung jalak dinilai sangat cerdas untuk memangsa hama lalat buah,” ujar Camat Kabanjahe, Drs Lesta Karo-Karo MM didampingi Sekcam Frans Leonardo Surbakti, SSTP saat melepas sekitar 50 ekor burung jalak di Desa Kandibata Kecamatan Kabanjahe, Senin (8/10).

Di hadapan puluhan warga setempat Lesta Karo-Karo mengimbau masyarakat petani agar turut menjaga burung jalak agar terhindar dari perburuan. Populasi burung jalak yang beberapa tahun belakangan terus menurun, harus menjadi perhatian semua pihak termasuk masyarakat itu sendiri.

Tidak kalah pentingnya, sambunga Karo-Karo, agar setiap perladangan masyarakat ditanam satu atau dua batang pohon kayu. Pohon kayu itu nanti banyak manfaatnya, baik bagi hama itu sendiri maupun sebagai tempat berteduh burung-burung pemangsa hama.

“Penyelamatan kehidupan lingkungan hidup dan ekosistem di dalamnya, termasuk kelangsungan berbagai jenis burung mutlak harus dilakukan untuk melestarikan rantai makanan yang selama ini terlupakan,” paparnya.

Memperbanyak burung jalak, diyakini solusi inovatif Bupati Karo yang patut diapresiasi semua pihak untuk membasmi lalat buah, yang semakin meresahkan masyarakat. Sekaligus penyebab hancurnya perekonomian rakyat, khususnya petani jeruk. “Bahkan, hama lalat buah, sekarang ini bukan lagi hanya menyerang tenaman jeruk, tapi juga sudah menyerang tanaman kopi, coklat, jagung dan tanaman lainnya,” ujar Lesta Karo-Karo.

Ditambahkan, untuk membasmi lalat buah tidak hanya jenis burung jalak ini saja dimanfaatkan dan dilestarikan, tapi masih ada jenis burung lain. “Untuk itu, kepada seluruh masyarakat pedesaan di Tanah Karo agar menghentikan perburuan, penembakan dan penjaringan terhadap segala jenis burung jalak, dengan dua ekor saja burung jalak bisa menjaga satu hektar tanaman,” terangnya.

Kepala Desa Kandibata, Abel Sembiring Pandia mengaku lalat buah yang dikenal dengan istilah “Cit-Cit” penyebab hancurnya prekonomian masyarakat, khususnya petani jeruk.

“Aksi ini harus kita dukung sepenuhnya demi memulihkan perekonomian warga masyarakat. Kita juga akan menggodok produk Peraturan Desa (Perdes) dengan materi gabungan antara produk hukum yang berisi pelestarian makhluk hidup seperti hewan dan tumbuhan serta kekayaan budaya lokal, hingga tujuan utama pengembangbiakan berbagai jenis burung, khususnya burung pemangsa lalat buah akan segera terwujud,” ujar Abel.

Aksi gerakan perang terhadap hama lalat jeruk yang dikumandangkan Bupati Karo, Kena Ukur Karo Jambi Surbakti dengan cara melepaskan berbagai jenis burung di Tanah Karo mendapat tanggapan positif dari berbagai elemen masyarakat dan tentunya juga dari jajaran Pemerintah Kabupaten Karo itu sendiri.

Pada hari yang sama di depan Kantor Bupati Karo, Camat Payung, Camat Tigapanah dan Camat Dolat Rayat, melepas puluhan ekor burung jalak untuk memerangi hama lalat buah yang sudah menjadi momok bagi petani jeruk Tanah Karo.

Sebelumnya, sebanyak 60 ekor burung jenis jalak dilepaskan oleh rombongan yang terdiri dari Seketaris Camat Berastagi, Drs Minton Ketaren, Kades Rumah Berastagi, Drs Moro Purba,  Ketua Gapoktan Desa Rumah Berastagi, Terum Purba beserta warga masyarakat di salah satu lahan pertanian jeruk milik anggota Sekolah Lapang Pengendalian Hama Terpadu (SLPHT), di Jalan Djamin Ginting Rumah Berastagi.(Andalas)

Categories: Pertanian

Soal Citcit, Dinas Pertanian Salahkan Petani

Hama lalat buah (dok)

Salah satu sentra jeruk di Indonesia berada di Sumatera Utara. Namun demikian, sebagian besar tanaman jeruk milik masyarakat saat ini mengalami kendala. Terutama dengan banyaknya serangan hama lalat buah.

Serangan hama itu mengakibatkan penurunan produksi dan pendapatan petani. Untuk membangkitkan kembali pertanian jeruk, pemerintah mulai pusat, propinsi dan kabupaten komit untuk memberantas serangan hama lalat buah tersebut.

Hal itu diungkapkan oleh Kepala Dinas Pertanian Sumatera Utara, M Roem kepada MedanBisnis, Kamis kemarin di Medan. Dikatakanya bahwa sentra-sentra produksi jeruk di Sumut yang tersebar di antaranya di Karo, Simalungun, Dairi dan beberapa kabupaten lainnya sudah sejak lama mengalami serangan hama lalat buah.

Dia menjelaskan, selama ini sebenarnya serangan lalat buah bisa dikendalikan namun secara parsial. Sejauh ini belum semua kawasan sentra bisa mengendalikan lalat buah sehingga serangan tetap saja banyak.

Hal tersebut yang kemudian menjadikan komitmen bagi pihak-pihak terkait untuk dapat melakukan upaya pemberantasan lalat buah secara massal. “Pengendalian lalat buah harus secara massal, tidak bisa lagi kalau hanya parsial,” jelasnya.

Berkembangbiaknya lalat buah juga berkaitan dengan perilaku petani yang belum benar. Semisal masih membiarkan buah yang terserang lalat buah di bawah pohon jeruknya. Sehingga buah tersebut menjadi tempat berkembangnya lalat buah. Dengan demikian, lalat buah tetap berkembangbiak dengan mudah. “Belum semua petani memahami bagaimana pengendalian lalat buah, itu yang menjadi kendala dalam memberantas lalat buah,” katanya.

Kedatangan Dirjen Hortikultura, Hasanudin Ibrahim beberapa waktu lalu ke Karo,  kata dia, untuk meninjau pertanian jeruk petani. Juga untuk menyamakan persepsi antara pusat, provinsi dan kabupaten dalam upaya pemberantasan hama lalat buah yang sudah merebak. “Itu suatu bentuk keseriusan dari pemerintah untuk pengendalian lalat buah,” ujarnya.

Kementrian pertanian kata Roem, tidak hanya memberikan dukungan sarana prasarana dan teknologi seperti light trap kepada petani, namun lebih dari itu. ementerian juga memberikan pemahaman bagaimana cara bertanam jeruk dengan benar, melakukan perawatan lahan yang baik sehingga terhindar dari serangan hama lalat buah. “Dari situ muncul kesepahaman bahwa pengendalian lalat buah itu harus secara terpadu, dukungan dari pusat, provinsi dan kabupaten sudah ada, sampai pada penganggarannya,” tambahnya.

Dikatakannya juga, saat ini harus dilakukan adalah segera melakukan pengorganisasian pengendalian lalat buah secara massal. Gerakan itu mulai dari teknis hingga kesiapan petani.

Dalam hal tersebut, menurutnya, ada pihak lain yang dilibatkan semisal dari Badan Koordinator Penyuluhan Pertanian, Perikanan, dan Kehutanan  Sumut, Balai Perlindungan Tanaman dan Pangan Hortikultura Sumut (BPTPH Sumut). “Kalau ini sudah, kita targetkan bulan ini atau November sudah bisa jalan,” tambahnya.(Medan Bisnis)

Categories: Pertanian